Monday, July 2, 2012

Spanduk Permusuhan Diedarkan


BANDUNG, KOMPAS.com- Ketegangan sempat terjadi pada masa istirahat antarbabak dalam laga Persib-Persidafon di Stadion Siliwangi, Senin (2/7/2012). Pangkalnya adalah spanduk yang menyerukan permusuhan antarkelompok pendukung tim.

Sewaktu istirahat tengah berlangsung, dua orang suporter turun ke lapangan dan membentangkan spanduk bertuliskan "Biarkan Permusuhan Tetap Abadi" dan di bawahnya ada umpatan terhadap Jakmania, kelompok pendukung Persija Jakarta.

Melintas di depan tribune VIP, keduanya dihalau panitia pelaksana sehingga balik arah. Tiba-tiba seorang penonton turun dan menghampiri mereka dengan maksud merebut spanduk. Tindakan itu malah mengundang lemparan botol plastik dari penonton di tribune utara.

Petugas kepolisian terpaksa turun tangan dan mengamankan suporter yang dimaksud untuk dibawa ke pintu utama dan dikeluarkan dari stadion. Spanduk itu kemudian dipasang di pagar tribune penonton selatan.

Spanduk itu terkait dengan permusuhan antara kelompok pendukung Persib Bandung dengan Persija Jakarta. Padahal, sempat ada rencana rekonsiliasi antara keduanya dengan momen nonton bareng pertandingan final Piala Eropa di Jakarta tapi urung terjadi.

Dihubungi sebelumnya, Ketua Viking, Heru Joko, menyatakan bahwa hampir 90 persen dari seluruh pendukung Persib setuju dengan upaya damai. Sisanya sebanyak 10 persen pendukung masih militan dengan perseteruan dua kelompok itu.


Via: Spanduk Permusuhan Diedarkan

Perancis 2016: 24 Negara, 10 Stadion


KIEV, KOMPAS.com - Piala Eropa 2012 sudah selesai, dengan Spanyol menjadi tim yang berdiri hingga akhir. Sementara Polandia dan Ukraina berbenah, UEFA dan Perancis mulai menyiapkan diri untuk Piala Eropa 2016.

Berbeda dari sebelumnya, Piala Eropa 2016 akan diikuti oleh 24 negara. Sebanyak 10 stadion sudah diplot menjadi lokasi pertandingan, yaitu New Bordeaux Stadium (Bordeaux), Stade Felix-Bollaert (Lens), Grand Stade Lille Metropole (Lille), Stade des Lumieres (Lyon), Stade Velodrome (Marseille), Stadium Municipal (Toulouse), Stade Geoffroy-Guichard (Saint-Etienne), Grand Stade Nice (Nice), Parc des Princes (Paris), dan Stade de France (Saint-Denis).

"Menurut saya, kami memiliki segala yang dibutuhkan untuk mendapatkan 24 tim bagus di Eropa. Ketika federasi sepak bola (sebuah negara) ambil bagian dalam sebuah turnamen, mereka melakukannya dengan bangga. Ini bagus untuk mempromosikan sepak bola, mengembangkan tim nasional dan pemain muda di negeri itu," Presiden UEFA, Michel Platini.

Perancis pernah dua kali menjadi tuan rumah Piala Eropa, yaitu 1960 dan 1984. Perancis menjadi semifinalis pada 1960 dan menjadi juara pada 1984.


Via: Perancis 2016: 24 Negara, 10 Stadion

Sunday, July 1, 2012

Pep: Tiki-Taka Tak Hanya di Sepak Bola


KOMPAS.com - Kamis (28/6) malam, tak dinyana, sosok yang paling banyak dibicarakan dalam lima tahun belakangan ini akhirnya muncul di hadapan umum. Maklum, setelah mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer klub FC Barcelona, banyak orang menduga-duga di mana ia akan berlabuh. Sampai saat ini pun, teka-teki itu belum terjawab.

Sosok itu adalah Josep Guardiola, mantan manajer paling sukses di klub Catalan, Spanyol, itu. Bagaimana tidak. Sebanyak 14 gelar dalam empat tahun kepemimpinannya membuat orang berdecak kagum. Salah satu legenda sepak bola di klub itu, Johan Cruyff, tersaingi. Prestasinya fenomenal!

Laki-laki yang memiliki nama lengkap Josep Guardiola i Sala itu mengaku tak punya resep apa pun. Bagi bapak tiga anak ini, semuanya sangat sederhana.

Kerja sama. Semua orang harus mau bekerja sama. Tak ada yang lebih baik dalam sebuah tim selain kerja sama, katanya saat diundang untuk berbicara dalam gala dinner yang diadakan oleh perusahaan pelumas otomotif global, Castrol Asia-Pacific di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (28/6) malam.

Pria yang biasa disapa Pep ini mengatakan, sepak bola adalah olahraga yang mengutamakan kerja sama. Bermain dalam kompetisi seketat La Liga, liga domestik Spanyol, dengan persaingan yang sangat ketat, tanpa kerja sama, tuturnya, sebuah klub tak akan bisa bersaing.

Tiki-taka, teknik bermain FC Barcelona, semakin dikenal setelah Pep menangani klub ini. Menurut Pep, tiki-taka itu adalah sebuah hal yang sederhana karena penguasaan bola adalah hal yang mendasar. Hal itulah yang selalu diingatkan dan dilatih secara serius oleh Pep kepada seluruh anggota tim.

Andres Iniesta, Xavi Hernandez, dan Lionel Messi memang dikenal sebagai raja lapangan tengah Barcelona. Namun, hal itu tak membuat yang lain tak bekerja karena, menurut Pep, semua siap bertahan dan menyerang sekaligus. Saat lawan mendekat, pemain sudah harus tahu ke mana dia harus melangkah atau mendistribusikan bola, katanya.

Tampil dengan kemeja biru keabuan berbalut jas abu-abu, Pep mengatakan, pujian tak boleh hanya terlontar kepada pelatih atau manajer. Seluruh pemain dan staf yang berada di balik hasil positif sebuah tim patut mendapat apresiasi.

Saya tak mungkin bekerja sendiri. Terlalu banyak yang harus dikerjakan, sementara kemampuan terbatas, kata laki-laki kelahiran Santpedor, 41 tahun lalu itu. Ditambahkan, ada 26 orang, di luar Andres Iniesta dan kawan-kawan, yang membantunya menangani tim sehari-hari, dengan tugas masing-masing.

Sentuhan personal


Hal lain yang ditekankan Pep adalah sentuhan personal dari pelatih atau manajer kepada anggota tim. Setiap pemain punya karakter dan budaya sendiri. Manajer harus bisa memahami karakter anggotanya, tuturnya.

Peraih gelar World Manager of The Year 2009 dan 2011 dari sebuah majalah sepak bola terkemuka ini mengatakan, menghadapi kendala internal ataupun di lapangan, seorang manajer harus tetap tenang dan fokus. Bila tak tenang, hal itu akan berdampak kepada anggota lainnya dan tentu saja berdampak pada hasil di lapangan.

Untuk mengatasi hal itu, menyerap banyak informasi mengenai kondisi tim dan kondisi calon lawan menjadi sangat krusial. Semakin banyak informasi, dirinya semakin tenang.

Pep dalam akhir diskusinya di hadapan para undangan mengatakan, tiki-taka tak hanya di sepak bola. Semua bidang bisa menerapkannya. (MHD)


Via: Pep: Tiki-Taka Tak Hanya di Sepak Bola

Bangganya Menjadi Juara Eropa


KOMPAS.com - Ajang Piala Eropa selalu membangkitkan kenangan indah dan mendalam bagi para pesepak bola yang pernah tergabung dalam tim yang menjuarainya. Kenangan tak terlupakan sebagai juara Piala Eropa itu tidak dirasakan banyak pesepak bola, sehingga siapa pun yang bisa merasakannya memiliki kebanggaan mendalam sebagai anggota tim juara.

Ada 159 pemain yang merasakan manisnya kemenangan di final Piala Eropa. Ribuan pemain lain hanya dapat memimpikan menikmati kenangan istimewa tersebut saat mengikuti turnamen akbar yang memasuki edisi ke-52 itu.

Pietro Anastasi baru lepas dari masa remajanya ketika membantu Italia menjuarai Piala Eropa pada 1968 di negerinya sendiri.

Sebaliknya, Arnold Muhren masuk usia 37 tahun saat membantu Belanda menjuarai Piala Eropa, dua dekade kemudian.

Inilah beberapa kesan para juara Piala Eropa dari masa ke masa, seperti dirangkum dalam situs resmi UEFA.

Viktor Ponedelnik, anggota tim Rusia di Piala Eropa 1960, yang mencetak gol kemenangan pada saat perpanjangan waktu.

Saya selalu menikmati kenangan di final mengalahkan Yugoslavia. Uni Soviet menjadi juara kejuaraan Eropa. Tiada seorang pun dapat melupakan momen kemenangan seperti itu. Bagi saya, kemenangan pada menit ke-113 itu adalah yang paling penting sepanjang karier saya. Saya mencetak banyak gol untuk klub dan tim nasional. Namun, ada pertandingan dan gol yang sangat spesial, yang menjadi titik tertinggi karier seorang pemain. Itu sepenuhnya milik saya, saat terbaik dalam hidup saya, katanya.

Luis Suarez, anggota tim Spanyol di Piala Eropa 1964. Gelandang yang menggerakkan tim tuan rumah mengalahkan Rusia di final.

Kenangan yang paling saya ingat adalah atmosfer saat itu karena Stadion Santiago Bernabeu sangat penuh sesak. Penonton sepenuhnya mendukung kami. Mungkin karena kami adalah tim pemain muda yang ingin meraih sesuatu. Saya membawa suasana tenang ke dalam tim dan meredam semua tekanan. Kami tampil baik sehingga layak menang. Padahal, ketika itu Uni Soviet memiliki tim yang sangat baik. Tim Spanyol tahun-tahun sebelumnya sebenarnya lebih bagus, tetapi tidak pernah meraih apa pun.

Antonin Panenka, anggota tim Cekoslowakia di final Piala Eropa tahun 1976. Mencetak gol kemenangan pada adu penalti melawan Jerman yang berakhir dengan skor 5-3.

Saya biasa tinggal dengan penjaga gawang kami setelah berlatih. Kami berlatih tendangan penalti. Kami suka bertaruh untuk sebatang cokelat atau segelas bir. Karena dia sangat bagus, taruhan itu menjadi cukup mahal bagi saya. Jadi, sebelum pergi tidur, saya selalu berpikir bagaimana bisa lebih baik dari dia. Saya mendapat ide untuk menunda tendangan dan kemudian memasukkannya. Saya mulai menggunakan cara itu pada pertandingan persahabatan, kemudian di liga, dan puncaknya di Piala Eropa.

Kuda Hitam, Horst Hrubesch, anggota tim Jerman Barat di final 1980. Meski bukan starter, dia mencetak dua gol kemenangan atas Belgia.

Saya bertanding di tiga pertandingan tanpa mencetak gol. Jika Jupp Derwall tidak memilih saya, saya tidak bisa menentangnya. Akan tetapi, dia membuat pilihan tepat. Saya mencetak gol pembuka, tetapi pada babak kedua, Belgia menunjukkan kelasnya dan menyamakan pada menit ke-75. Itu hari yang sangat panas dan saya ingat begitu kelelahan setelah pertandingan sehingga sulit untuk mengangkat trofi. Gol kedua saya, dari tendangan penjuru Karl-Heinz Rummenigge, sangat penting.

Sang penyihir, Marco van Basten, anggota tim Belanda di final turnamen Piala Eropa tahun 1988 di Jerman.

Anda membutuhkan banyak keberuntungan dan waktu itu keberuntungan diberikan kepada saya. Itu satu perasaan yang fantastis. Itulah saat ketika kami bisa mengatakan, ini unggul 2-0, kami dapat memenangi pertandingan. Saya tidak menyadari apa yang sudah saya perbuat ketika mencetak gol kedua Belanda dengan cara istimewa. Gol itu tercipta setelah mendapat bola dari Arnold Muhren. Kami menang di final melawan Rusia, 2-0. (OKI)


Via: Bangganya Menjadi Juara Eropa

Hattrick Cantik Spanyol


KIEV, KOMPAS - Sorak kegembiraan para pemain dan pendukung Spanyol pecah saat Iker Casillas mengangkat trofi Piala Eropa. Mimpi tim La Furia Roja untuk mencetak hattrick terwujud dengan cara yang cantik, menggulung Italia dengan skor 4-0. Dengan trofi ini, Spanyol menegaskan dominasinya di dunia sepak bola.

Setelah merebut Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010, trofi Piala Eropa 2012 ini adalah hattrick yang diciptakan Spanyol. Piala Eropa kali ini adalah Piala Eropa ketiga bagi Spanyol dan menyamai rekor Jerman. Rekor itu juga dilengkapi dengan fakta Spanyol mampu merebut Piala Eropa dua kali berturut-turut dan menjadi pemenang final dengan skor terbesar.

David Silva memulai pesta kemenangan Spanyol setelah tandukannya menggetarkan gawang Gialuigi Buffon, pada menit ke-14, Minggu (1/7) di Kiev.

Gol itu diawali oleh penetrasi Cesc Fabregas di kotak penalti menuju ke tiang kiri gawang. Giorgio Chellini yang menjaganya gagal menahan umpan silang yang dilepaskan Fabregas. Meskipun tingginya hanya 170 sentimeter, Silva yang berdiri bebas dapat langsung menanduk bola ke gawang yang sudah tidak terjaga oleh Buffon.

Ketinggalan 0-1 membuat Italia bangkit dan mulai menyerang. Antonio Cassano dan Mario Balotelli menjadi target umpan dari para gelandang dan bek sayap.

Pada menit ke-27, Balotelli hampir mengulangi mencetak gol dengan sundulan tetapi kiper Casillas lebih dulu menepis bola. Dua menit kemudian, Cassano berhasil menipu tiga bek Spanyol dan melepaskan tendangan ke gawang tetapi bola dapat ditangkap oleh Casillas.

Italia juga mencoba mencetak gol melalui dua tendangan di luar kotak penalti. Cassano dan Riccardo Montolivo menendang bola ke gawang tetapi semuanya berhasil ditahan oleh Casillas.

Saat Italia sedang asyik menyerang, Spanyol melakukan serangan balik. Xavi dari lapangan tengah berhasil keluar dari penjagaan pemain Italia dan melepaskan umpan terobosan ke Jordi Alba di menit ke-41.
Alba sekali mengontrol bola dengan kaki kanannya dan langsung melepaskan tendangan untuk menjebol gawang Buffon untuk kedua kalinya. Skor berubah menjadi 2-0 bagi Spanyol.

Dominasi Spanyol
Di babak kedua, Italia berkesempatan memperkecil ketinggalan. Namun, sundulan Antonio Di Natale yang sudah berada di depan gawang justru naik ke atas mistar.

Setelah itu, Italia praktis tidak memiliki peluang emas untuk memperkecil ketertinggalan mereka. Sebaliknya, Spanyol berkali-kali mendapat peluang.

Di menit ke-48, Fabregas kembali melakukan penetrasi ke kotak penalti. Namun, Fabregas dijatuhkan dan umpannya yang lemah ke Anders Iniesta disapu oleh bek Italia.

Spanyol seharusnya mendapat penalti di menit ke-50 setelah sundulan Sergio Busquets ditahan oleh tangan Leonardo Bonucci. Sayangnya, wasit tidak melihat sehingga hadiah tendangan penalti tidak diberikan.

Spanyol yang terus mengurung Italia mendapat peluang di menit ke-83 setelah Xavi melepaskan umpan terobosan ke Fernando Torres. Torres yang baru bermain delapan menit langsung memanfaatkan umpan itu dengan menaklukkan Buffon dan menciptakan gol ketiga bagi Spanyol dan gol ketiga baginya sendiri di turnamen ini.

Spanyol semakin menikmati permainan setelah unggul 3-0. Juan Mata akhirnya dimainkan untuk pertama kali di turnamen ini menggantikan Iniesta.

Keputusan pelatih Vincente Del Bosque untuk memainkan Mata sangat tepat karena dua menit setelah main, Mata langsung mencetak gol setelah mendapat umpan dari Torres.

Kemenangan ini sangat bersejarah bagi persepakbolaan Spanyol. Kini, kami akan menatap masa depan pada Piala Dunia 2014, kata Del Bosque, yang juga membawa tim nasional Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010. (Caesar Alexey/Kompas e-paper/Kompas dakode)


Via: Hattrick Cantik Spanyol

Del Bosque Samai Rekor Schoen


KIEV, KOMPAS.com - pelatih Vicente del Bosque kini menjadi orang kedua yang mampu membawa timnya menjuarai Piala Dunia dan Piala Eropa. Orang pertama yang meraih prestasi ini adalah pelatih Jerman, Helmut Schoen.

Setelah mengganti posisi Luis Aragones sebagai pelatih Spanyol, Del Bosque sukses membawa timnya menjuarai Piala Dunia 2010. Dia kemudian melengkapi prestasinya dengan menjarai Piala Eropa 2012, setelah di final mengalahkan Italia 4-0.

Sedangkan Schoen membawa Jerman Barat (sekarang Jerman) menjuarai Piala Eropa 1972. Dua tahun kemudian, dia membawa Jerman juara Piala Dunia 1974.


Via: Del Bosque Samai Rekor Schoen

Darma Mangkuluhur Juara di Makau


Makau - Prestasi menggembirakan berhasil ditorehkan Darma Mangkuluhur di ajang Asian Karting Open Championship (AKOC) 2012 Seri I. Pegokart belia Indonesia itu tampil sebagai juara.

Dalam lomba sepanjang 18 lap di Macau Grand Prix International Circuit, Minggu (1/7/2012), Darma yang turun di kelas KF3 125 cc finis di urutan pertama dan mengalahkan 12 peserta lainnya. Remaja berusia 13 tahun itu membukukan waktu 14 menit 18,692 detik.

Pegokart China, Lee Wai Long, harus puas menjadi runner-up dengan waktu 14 menit 29,109 detik. Sementara itu, posisi ketiga diduduki Jacky Chan Cheuk Hin dari Hong Kong dengan waktu 14 menit 42,481 detik.

Berkat hasil ini, Darma untuk sementara menempati peringkat teratas klasemen AKOC dengan perolehan 40 poin.

Ini hasil yang luar biasa buat saya, dan juga start yang baik buat saya untuk lomba berikut, tutur Darma dalam rilis yang diterima detikSport.

"Hasil ini makin membuat saya termotivasi untuk meraih hasil yang sama pada seri kedua nanti di Filipina. Saya pun berterima kasih pada tim yang telah mendukung saya sejak awal lomba," tambahnya.

Manajer tim Darma, Moreno Soeprapto, berharap pegokartnya ini bisa menjaga konsistensinya di seri-seri selanjutnya.

Yang jelas, Darma harus konsisten dengan penampilannya ini untuk lomba mendatang di Filipina. Saya berharap Darma bisa kembali mengulang prestasinya ini, kata Moreno.


Via: Darma Mangkuluhur Juara di Makau